Artikel ini dapat digunakan, disalin, dan disebarluaskan. Cukup cantumkan sumber asli. Jika isinya mengandung kebenaran, semoga memberi kebaikan bagi kita yang memanfaatkannya. Jika ada yang salah, mohon kiranya penulis dimaafkan. Dan sangat baik, jika kesalahan tersebut dapat diberitahukan kepada penulis.
Yanmarshus, 23 Agustus 2005, yan[at]daunsalam[dot]net

Ini "Linux Desktop"ku

Karena keinginan mendapatkan sebuah sistem operasi untuk desktop yang enak, yang sederhana, yang cepat, yang indah, yang kecil, yang legal, yang "free", dan sejumlah persyaratan lainnya, maka terjadilah berbagai pengalaman, dan akhirnya melahirkan tulisan ini. Jadi anggap saja ini sebuah tulisan tentang pencarian linux desktop yang "ideal" dalam ukuran "saya".

Awalnya saya memilih Mandrake dengan KDE sebagai basis untuk desktop, dan ini berjalan cukup lama. Tetapi karena ada hal yang rasanya kurang pas, lalu saya beralih ke Gnome. Setelah menggunakan Gnome beberapa waktu, masih juga ada rasa tidak puas. Akhirnya jatuhlah saya pada berbagai usaha coba sana sini. Sejumlah distro seperti Redhat, Debian, Suse, Ubuntu, saya install, namun akhirnya tidak juga nyaman dalam fikiran.

Ini bukan karena saya ahli dalam menilai sebuah software atau distro yang ada. Dan juga bukan karena saya mumpuni dalam menilai kekurangan yang ada dalam paket tersebut. Ini hanyalah masalah selera dan perasaan. Dan itu tidak untuk diperdebatkan. Jadi, ketika akhirnya saya memilih salah satu distro, atau memakai program xyz, saya tidak bisa memberi alasan teknis, filosofis dan sejenisnya.

Setelah menjalani "semedi" yang melelahkan, berupa browsing internet, baca-baca artikel di majalah, mengamati perdebatan di forum-forum, beberapa nama masuk ke dalam daftar software yang cocok untuk desktop "ideal" saya. Mulailah proses download terhadap source code yang terbaik tersebut. Sebagai basis sistem operasi, pilihan jatuh pada Slackware 10.1. Apa alasannya ? Saya tak bisa menuliskannya. Selain akan menimbulkan banyak perdebatan, saya juga tak tahu alasan ilmiahnya :)

Mendapatkan CD slackware 10.1 ini juga membutuhkan pengorbanan yang tak sedikit. Saya berangkat ke ITC Kuningan untuk membeli di Gudanglinux. Ternyata saya masih seperti orang-orang zaman "baheula" yang suka belanja langsung ke toko. Mengapa tidak lewat internet saja ? Lagi-lagi tak ada komentar tentang ini.

Setelah mendapatkan CD ini, sampai di rumah, dengan semangat yang mengebu-gebu langsung saya install. Namun keberuntungan belum memihak kepada saya. CD Slackware yang dibeli ternyata rusak, tak terbaca dengan baik oleh CDROM Drive. Bukan karna CDROM Drive yang gagal, karena hasil percobaan terhadap sejumlah CDROM Drive lainnya, hasilnya sama. Saya kecewa. Perlu waktu, usaha, dan modal lagi untuk mengganti CD cacat ini ke tokonya.

Besoknya, saya berangkat lagi ke Jakarta. Apa yang terjadi? Hari Minggu toko ini tutup. HA! Pulang dengan tangan hampa, saya makin sedih saja. Perjalanan Bogor-Jakarta-Bogor hari itu jadi tak berguna. Di rumah, untuk menghilangkan rasa kecewa, saya lihat-lihat lagi daftar software idaman saya. Browsing lagi, cari lagi, diamat-amati lagi. Namun memang daftar itu akhirnya tidaklah terlalu sempurna.

Belum putus asa, besoknya saya ke Jakarta lagi. Dengan sedikit protes dari sang penjaga toko, kali ini saya berhasil mengganti CD yang rusak tersebut. Sebelumnya beliau menanyakan apakah sudah konfirmasi dulu lewat email? Ya, saya jawab tidak, karna belinya pakai cara primitif, mengapa harus kirim email? Sang penjaga tetap mengatakan harus konfirmasi dulu. Dengan sedikit bersungut-sungut (eh dia gak punya sungut ...) CD itu diganti juga. Lalu saya minta apakah CD ini bisa di-cek dulu? Jawabnya : Tidak Bisa. UFF.

Syukur, CD baru ini berjalan dengan baik. Proses instalasi berjalan mulus.

Instalasi untuk Slackware diusahakan secukupnya saja. KDE dan Gnome, serta beberapa program "tak penting" tidak diinstall.

Inilah langkah berikutnya yang saya lakukan setelah login :

Sound system masih dalam keadaan "muted", jadi perlu dikonfigurasi dulu. Konfigurasi menggunakan alsamixer. Setelah pas, setting ini disimpan dengan alsactl store.

Kemudian melakukan konfigurasi terhadap Xorg, dengan xorgconfig. Lancar. Window manager yang dipakai adalah fluxbox, dan sudah dikonfigurasi ketika instalasi Slackware.

Setelah itu mulailah melakukan kompilasi terhadap source code pilihan yang sudah didownload. Semua proses kompilasi berjalan nyaris tanpa hambatan. Ada beberapa hal kecil yang menimbulkan error, namun cukup mudah diselesaikan. Rumus

./configure
make
make install

ternyata sangat mujarab

Berikut ini pilihan software yang saya pakai untuk desktop idaman ini.

Web browser menggunakan Firefox. Software ini tidak di download dari internet. Paket instalasi saya ambil dari CD Infolinux bulan Juli 2005. Direktori instalasi saya tempatkan di /usr/local/firefox
Untuk email client, juga dari CD Infolinux yang sama, yaitu Thunderbird yang diinstal di /usr/local/thunderbird
Sedangkan ftp client memakai gftp. Dillo juga diinstall sebagai web browser alternatif. Saya menyenanginya karena ukuran yang kecil. Untuk melihat halaman html sederhana (seperti dokumentasi) di komputer lokal, cukup pakai Dillo saja. Sesekali untuk chatting, pakai yang mode console saja, irssi. Download manager, tetap pakai wget.

Koneksi ke internet pakai eznet. Ini betul-betul aplikasi yang kecil. Source code hanya dalam satu buah file c. Proses kompilasi dan instalasi sekaligus cukup dengan satu baris eksekusi, yaitu gcc -o /usr/bin/eznet -O eznet.c
Menggunakan eznet juga sangat mudah, dan berjalan dengan baik. Mendaftarkan informasi ISP, cukup dengan eznet add, koneksi ke internet eznet up, dan memutus koneksi dengan eznet down. Hehe. Cukup intuitif.

Abiword yang sudah tersedia dalam CD slackware saya pilih untuk wordprocessor, xpdf untuk pdf reader, Gimp untuk image processing. Sedangkan yang dikompilasi dari source code adalah gnotepad dan nedit untuk text editor, galculator untuk calculator, qiv dan gqview untuk image viewer. Aplikasi presentasi yang saya gunakan adalah Magicpoint. Bukan dari tipe WYSIWYG, namun menyenangkan. Sedangkan spooler printer (?) memakai pdq.

Mendengarkan mp3 pakai xmms dan mpg321 yang sudah tersedia juga di CD Slackware. Untuk "kulit" xmms saya pakai skin Nucleo N-Log yang didownload dari situs winamp. Skin ini dimodifikasi sedikit. mp3gain bisa dipakai untuk menormalisasi suara dari file mp3.

Midnight Commander memang menjadi aplikasi yang wajib ada dalam komputer. File manager mc memang cukup tangguh. Untuk yang tampilannya berbau window, menggunakan emelfm dan worker.

Mempercantik tampilan fluxbox, style Meta yang disediakan oleh fluxbox, dipoles sedikit dengan menambahkan wallpaper. Gambar untuk wallpaper diambil dari CD Infolinux. Dari file style fluxbox tersebut ditambahkan command qiv -x namafilewallpaper untuk menampilkan wallpaper di layar. Toolbar di set tingginya menjadi 40, dan lebar 100%. Sedangkan menu diatur kembali agar sesuai dengan aplikasi yang tersedia. Dengan model menu sederhana, tanpa membuat grup terhadap menu tersebut. Tampilan jam di toolbar fluxbox, awalnya tidak ada tanggal, ini kurang lengkap. Diganti dengan format %d %b %k:%M hasilnya lebih memuaskan.

Sewaktu login, sistem tidak langsung masuk ke mode X, jadi tetap console. File /etc/issue diedit untuk menampilkan halaman login yang "lain", file ini diisi dengan sedikit ASCII art dan informasi "tak berguna" lainnya.

Demikianlah hasil akhirnya. Entah bagus atau tidak, sementara saya cocok dengan cara seperti ini. Jika Anda merasa mendapat inspirasi dari sini, tentu tak ada salahnya juga mencoba membuat "ramuan" yang sesuai selera Anda.